Kamu pernah bertanya, "lebih baik mana aku berjalan tapi tersandung terus-terusan atau jatuh sekalian?"
Lalu, aku menjawab, "Lebih baik jatuh sekalian. Kamu sakit sekali setelah itu kamu akan sembuh tanpa takut terluka lagi". You did it, dude.
Maaf pernah menjadi orang paling munafik. Mengatakan "tidak apa-apa" padahal .... (Siapa sih yang akan baik-baik saja ketika dia kehilangan? Ngga ada, kan).
Jangan pernah bilang perkara ini mudah. Karena apa yang kita ucap sama sekali tak mudah untuk dilakukan. Kamu dan aku sama-sama melaluinya.
Awalnya aku berpikir ini terlalu indah untuk mengatakan "sudah". Sulit diterima. Setiap kali apa yang aku lakukan, setiap apa yang aku lihat dan dengar, hampir semuanya mengingatkanku padamu. Kamu tahu bahwa kita sama-sama tersiksa. Kamu sudah memilih jalan yang tepat.
Seiring berjalannya waktu, lama-lama kita (khususnya aku) juga akan terbiasa. Semua butuh proses.
Kamu sudah membuka mataku, betapa berharganya waktu yang dulu (mungkin) pernah aku sia-siakan.
"Kamu baru akan tahu betapa berharganya waktu setelah kehilangan"
Semoga penyesalanku tidak akan terulang untuk seseorang setelahmu, nanti.
Caramu waktu itu, baru aku sadari sekarang. Bukan berarti saat itu aku tidak menghargai waktu denganmu. Melainkan aku merasa bahwa waktu-waktu bersamamu akan jauh lebih banyak di kemudian hari. Namun, aku salah mengira. Maaf.
Terlalu banyak harapan yang ingin kita wujudkan bersama. Tetapi kini sudah tak lagi memungkinkan. Jangan cuma jadi harapan, harus tetap diwujudkan, ya! Hidupkan harapan-harapan itu meskipun tidak denganku. Aku juga akan berusaha menghidupkannya, meskipun tidak denganmu.
Hmm, aku dengar, kamu sudah bahagia di tempat barumu. Benarkah? Semoga.
Sedikit munafik memang jika aku mengatakan "aku bahagia jika kamu bahagia, meskipun itu bukan karena aku", tapi percayalah, aku sudah merelakannya.
Tidak ada yang berubah dari kita. Kita tetap teman. Sejak awal kita memang sepakat "berteman", kan? Jangan jadi jauh hanya karena kamu sudah memiliki kebahagiaan yang lain. Ingat, pernah ada bahagia yang kita upayakan. Bukankah dulu kita saling membahagiakan?
Hahaha, ternyata waktu berlalu sangat cepat. Sudah, hanya sampai sini kita berjalan beriring saling menemani. Saatnya kita mencari kebahagiaan yang lain. Karena kebahagiaan yang pernah jadi milik kita sudah kadaluarsa. Masing-masing dari kita akan mendapat yang lebih baik.
Lagi-lagi, Tuhan memberi tahu aku untuk berhati-hati meletakkan sebuah pengharapan. Menaruh kepercayaan.
Semoga, kamu tidak merasakan pedihnya dikecewakan.
Tak lama lagi, kamu akan menemukan seseorang yang mengertimu, mengingatkan kesehatanmu, tidur larut malam hanya untuk menunggu kabarmu, dan lain sebagainya seperti yang pernah aku lakukan untukmu. Hanya saja, yang ia lakukan tak sama sepertiku. Kamu tak akan pernah menemukan yang sepertiku. Temukan yang lebih baik!
Ketika "seseorang" itu hadir dalam hidupmu, katakanlah jika kamu tidak akan melepaskannya. Jangan ulangi kesalahan yang sama.
Jaga dirimu!
Lalu, aku menjawab, "Lebih baik jatuh sekalian. Kamu sakit sekali setelah itu kamu akan sembuh tanpa takut terluka lagi". You did it, dude.
Maaf pernah menjadi orang paling munafik. Mengatakan "tidak apa-apa" padahal .... (Siapa sih yang akan baik-baik saja ketika dia kehilangan? Ngga ada, kan).
Jangan pernah bilang perkara ini mudah. Karena apa yang kita ucap sama sekali tak mudah untuk dilakukan. Kamu dan aku sama-sama melaluinya.
Awalnya aku berpikir ini terlalu indah untuk mengatakan "sudah". Sulit diterima. Setiap kali apa yang aku lakukan, setiap apa yang aku lihat dan dengar, hampir semuanya mengingatkanku padamu. Kamu tahu bahwa kita sama-sama tersiksa. Kamu sudah memilih jalan yang tepat.
Seiring berjalannya waktu, lama-lama kita (khususnya aku) juga akan terbiasa. Semua butuh proses.
Kamu sudah membuka mataku, betapa berharganya waktu yang dulu (mungkin) pernah aku sia-siakan.
"Kamu baru akan tahu betapa berharganya waktu setelah kehilangan"
Semoga penyesalanku tidak akan terulang untuk seseorang setelahmu, nanti.
Caramu waktu itu, baru aku sadari sekarang. Bukan berarti saat itu aku tidak menghargai waktu denganmu. Melainkan aku merasa bahwa waktu-waktu bersamamu akan jauh lebih banyak di kemudian hari. Namun, aku salah mengira. Maaf.
Terlalu banyak harapan yang ingin kita wujudkan bersama. Tetapi kini sudah tak lagi memungkinkan. Jangan cuma jadi harapan, harus tetap diwujudkan, ya! Hidupkan harapan-harapan itu meskipun tidak denganku. Aku juga akan berusaha menghidupkannya, meskipun tidak denganmu.
Hmm, aku dengar, kamu sudah bahagia di tempat barumu. Benarkah? Semoga.
Sedikit munafik memang jika aku mengatakan "aku bahagia jika kamu bahagia, meskipun itu bukan karena aku", tapi percayalah, aku sudah merelakannya.
Tidak ada yang berubah dari kita. Kita tetap teman. Sejak awal kita memang sepakat "berteman", kan? Jangan jadi jauh hanya karena kamu sudah memiliki kebahagiaan yang lain. Ingat, pernah ada bahagia yang kita upayakan. Bukankah dulu kita saling membahagiakan?
Hahaha, ternyata waktu berlalu sangat cepat. Sudah, hanya sampai sini kita berjalan beriring saling menemani. Saatnya kita mencari kebahagiaan yang lain. Karena kebahagiaan yang pernah jadi milik kita sudah kadaluarsa. Masing-masing dari kita akan mendapat yang lebih baik.
Lagi-lagi, Tuhan memberi tahu aku untuk berhati-hati meletakkan sebuah pengharapan. Menaruh kepercayaan.
Semoga, kamu tidak merasakan pedihnya dikecewakan.
Tak lama lagi, kamu akan menemukan seseorang yang mengertimu, mengingatkan kesehatanmu, tidur larut malam hanya untuk menunggu kabarmu, dan lain sebagainya seperti yang pernah aku lakukan untukmu. Hanya saja, yang ia lakukan tak sama sepertiku. Kamu tak akan pernah menemukan yang sepertiku. Temukan yang lebih baik!
Ketika "seseorang" itu hadir dalam hidupmu, katakanlah jika kamu tidak akan melepaskannya. Jangan ulangi kesalahan yang sama.
Jaga dirimu!