Untuk hari
ini dan hari-hari ke depan entah untuk berapa lama yang aku inginkan, aku akan
membiarkanmu untuk tenang. Aku akan membiarkanmu untuk menjalani segala yang
ingin kamu jalani tanpa larangan ini dan itu dariku. Aku akan membiarkanmu
melakukan segala yang kamu rasa itu perlu kamu lakukan. Aku akan membiarkanmu
melepas penat dari kejenuhan hadirku selama ini. Aku akan
membiarkan semuanya tenang dan bebas. Aku akan membiarkanmu.
Aku sudah
tidak bisa lagi membantu. Aku sudah kerahkan segala usahaku yang aku pikir itu
bisa membantu, tapi nyatanya kamu terlihat seperti terganggu. Aku harus berbuat
apa, aku pun tak tahu. Aku hanya bisa itu. Mencoba menghiburmu, menemanimu
dari jauh maupun dekat, mendoakanmu, dan lain-lain yang tak perlu kamu tahu.
Lalu, aku bisa apa lagi?
Jika
hadirku disekitarmu tidak berdampak apa-apa padamu, justru membuatmu semakin
terganggu, mungkin jika sebentar saja aku menjauh bisa menenangkan pikiranmu.
Bukan maksudku untuk memang berniat jauh darimu, tapi aku pikir hanya itu yang
mungkin bisa membantumu. Karena aku tak tahu harus melakukan apa lagi. Aku
hanya tak tahu, bukannya tak mau.
Aku tak
ingin melihatmu menahan berisiknya suara perempuan yang membicarakan hal tidak
penting dan dia ada tepat di sampingmu. Aku tak ingin mendengar larangan
bersuara untukku hanya karena mendengar suara parauku yang coba menghafalkan
lagu. Aku tak ingin melihatmu memasang wajah sinis jika apa yang aku katakan
tidak dapat kamu dengar dengan jelas sedangkan aku enggan untuk mengulang
dengan berlagak marah kecil. Aku tak ingin melihatmu menutup wajahmu diatas
bangku hanya karena aku susah diajak untuk bicara, harus berulang kali kamu
mengulangnya sedangkan aku masih belum paham. Aku hanya tak ingin melihatmu.
Jika kamu
membutuhkanku, entah untuk apa itu, aku akan ada disampingmu. Tapi tak bisa berbuat
banyak untukmu.
Untuk sementara ini, selamat menikmati hari-harimu tanpa diriku. Selamat menjalani setiap jammu untuk beristirahat dari gangguan ocehan dariku. Selamat mengistirahatkan pikiranmu jika dulu aku pernah menjadi beban pikiranmu. Selamat bersenang-senang jika sebelumnya aku belum sempat membuatmu bahagia. Selamat untuk segalanya.
(Mengapa aku
begitu sulit menyesuaikan keadaan denganmu?)