Another new year is coming!
2017, mengajariku tentang mencapai harapan dan mempertahankan.
2017, menempatkanku ditempat tertinggi dan terbawah.
2017, memberiku pengalaman yang tak terlupakan.
Secara keseluruhan, 2017, mengajarkan untuk memilih. Karena kurang lebih masalah yang ku hadapi adalah tentang pilihan. Memang tidak akan selalu mulus, namun hal itu akan segera berlalu.
Selamat menulis resolusi di tahun yang baru. Happy New Year 2018!
2017, mengajariku tentang mencapai harapan dan mempertahankan.
2017, menempatkanku ditempat tertinggi dan terbawah.
2017, memberiku pengalaman yang tak terlupakan.
Besar harapan, 2018 akan memberiku ruang untuk memperbaiki dan mengkoreksi segala kesalahan. Tahun ini tidak akan terlupakan.
Mau coba sharing tipis-tipis tentang sebagian kecil pengalamanku di tahun 2017. Tidak mengesankan, biasa saja. Tapi semoga bisa diambil hikmahnya. Because everything happens for a reason.
Let's go to the list!
Dapet IP untuk pertama kalinya
Buah dari kuliahku selama satu semester muncul di awal tahun 2017. Sungguh pembuka tahun yang cukup indah. IP yang sangat memuaskan. Padahal untuk semester pertama ini aku tidak terlalu yakin jika aku mampu.
Aku dari SMK, jaringan pula. Lalu bertolak ke Akuntansi Airlangga. Dua hal yang sangat berbeda. Syukurlah, aku bisa melaluinya.
Menjadi pengurus HMA Unair 2017
Karena di SMK aku ngga kebiasa nganggur, maka untuk dunia perkuliahan ini aku memutuskan untuk mengikuti oprec pengurus HMA dan akhirnya lolos menjadi staff HR. Welcome party di tanggal 21 Januari 2017 membawaku pada lingkungan baru, orang baru, dan teman baru.
Dari sini, aku sangat berharap bisa lebih membaur dengan angkatanku. Karena bisa dibilang, dalam satu semester ini belum banyak yang aku kenal.
Tes STAN
Perang batin sih sebenernya. Karena untuk mengikuti tes ini, aku harus menyembunyikan dari organisasi. Pasti mereka berpikir bahwa aku tega meninggalkan mereka dan aku tidak suka seperti itu, maka dari itu mungkin lebih baik dirahasiakan dulu. "Kalau benar-benar aku pindah, baru pamitan", pikirku saat itu.
Belum puas dari hasil tahun lalu, di tahun ini aku mencoba peruntunganku lagi. Dan kali ini, ada satu kemajuan. Pada tes tahap pertama, aku lolos diantara ribuan peserta di wilayah Surabaya. Lanjut ke tes tahap kedua, Tes Kebugaran dan Jasmani. Untuk persiapannya aku tidak memiliki banyak waktu, kurang dari seminggu. Setiap pagi dan sore latihan lari, makanan juga ikut diatur, dan minum jus setiap hari.
Namun hasil berkata lain. Di tahun 2017, aku gagal lagi. Langkahku terhenti di tes tahap kedua.
Percaya, dibalik kegagalan pasti ada hikmahnya.
Mempersiapkan Osjur
Masuk dalam kepanitiaan dan menjadi bagian dari sub-tim acara. Ku kira ini akan menjadi hal terberat di tahun ini dan ternyata IYA. Liburan rela dipotong, menyisihkan waktu bersantai untuk mondar-mandir ke kampus menyusun konsep. Tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Berangkat pagi dan pulang pagi lagi. Belum kalau harus revisi, bisa tidak tidur sehari.
Namun dari situ aku punya tempat 'berkeluh kesah' yang baru. Teman yang selalu ada untukku.
Feeling Down
Benar apa yang dikata 'hidup itu seperti roda, kadang di atas kadang di bawah'. Di tahun ini aku merasakan keduanya. Herannya, bisa secepat itu, ya?
Pada saat itu, aku merasa hampa. Mendadak jadi pendiam. Mengurung diri di kamar. Tiap minggu harus pulang. Aku sendiri takut kalau ini namanya depresi. Overthinker.
Ini ku rasakan dua minggu sebelum UTS. Saking takutnya, notification line aku non-aktifkan. Berasa sumpek dan sedih gitu aja kalau dengar suaranya.
Inisiatif setelah UTS, aku pergi ke Malang untuk menceritakan keadaanku pada salah satu guru SMK-ku dulu, yang bisa ku percaya. Dan disana aku ceritakan semuanya. Terima kasih, Bu Felly.
Dari situlah, aku mendapat banyak masukan dan aku mencoba untuk merubahnya perlahan.
Ada apresiasi dari temanku berkat usahaku untuk berubah, khususnya dari dalam kepanitiaan (karena pada saat itu aku menjadi Wakil I di proker HMA).
Usia Baru
19 Desember, 20 tahun lalu aku dilahirkan. Aku di rumah, merayakannya bersama keluarga. Maaf yang sebesar-besarnya, aku tidak bisa menghadiri LPJ HMA dikarenakan ada acara. Sangat membingungkan karena aku harus memilih diantara keduanya.
Dibalik itu semua, aku sangat bersyukur. Allah masih memberiku kesempatan untuk bernafas tanpa kurang suatu apapun hingga detik ini.
Akan banyak resolusi untuk usia baruku ini.
Memutuskan Hal Besar
Hidup memang akan selalu tentang pilihan. Tak hanya 2 atau 3 opsi, akan lebih banyak lagi. Di tahun ini aku dilatih dan belajar untuk memilih. Memilih tidak akan pernah mudah. Selalu ada resiko.
Tes STAN, aku harus memilih antara organisasi atau cita-cita keluarga. Aku memutuskan untuk memperjuangkan cita-cita meski hasilnya tidak sesuai harapan. Setelahnya, loyalitas pada organisasi dipertanyakan.
Saat aku merasa di titik paling bawah, aku harus memilih antara organisasi dan akademik. Karena saat itu menjelang waktu ujian. Aku memutuskan untuk memperbaiki akademikku yang sempat keteteran di saat mempersiapkan ospek jurusan, dan hal yang aku korbankan adalah kepanitiaan yang saat itu aku pegang. Setelahnya, aku ketinggalan banyak perkembangan teman-teman. Itu prokerku dan aku tidak maksimal di dalamnya, menyesal dan merasa bersalah. Aku mencoba untuk muncul ke permukaan perlahan. Mungkin agak sedikit terlambat.
Melanjutkan kepengurusan HMA? Terdengar sangat menarik. Dan aku memilih untuk mengistirahatkan diri. Meskipun dalam hati sebenarnya ingin. Ingin berkontribusi lebih dan memperbaiki. Banyak jalan menuju Roma. Kontribusi tidak hanya sebatas ikut kepengurusan saja, ada jalan lain.
Urusan laki-laki? Hehe, mungkin agak aneh kalau dibahas disini. Ada pilihan untuk dilanjutkan atau tinggalkan. Dan aku memilih untuk meninggalkan (tapi masih berteman). Maksud meninggalkan disini adalah aku tidak ingin memberi dia harapan dan aku juga tidak ingin diberi harapan. Aku tidak ingin dia terikat dan aku juga tidak ingin terikat, hanya karena kita dekat. Karena mulai saat ini aku ingin hubungan dengan kejelasan. Tidak mau ada hubungan tanpa status. Mungkin akan terkesan kekanak-kanakan, tapi gimana lagi? Aku butuh kepastian. Kalau tidak bisa memberi kepastian, lebih baik berteman. Selain itu juga ada hal lain yang tak bisa ku ceritakan disini.
Mau coba sharing tipis-tipis tentang sebagian kecil pengalamanku di tahun 2017. Tidak mengesankan, biasa saja. Tapi semoga bisa diambil hikmahnya. Because everything happens for a reason.
Let's go to the list!
Dapet IP untuk pertama kalinya
Buah dari kuliahku selama satu semester muncul di awal tahun 2017. Sungguh pembuka tahun yang cukup indah. IP yang sangat memuaskan. Padahal untuk semester pertama ini aku tidak terlalu yakin jika aku mampu.
Aku dari SMK, jaringan pula. Lalu bertolak ke Akuntansi Airlangga. Dua hal yang sangat berbeda. Syukurlah, aku bisa melaluinya.
Menjadi pengurus HMA Unair 2017
Karena di SMK aku ngga kebiasa nganggur, maka untuk dunia perkuliahan ini aku memutuskan untuk mengikuti oprec pengurus HMA dan akhirnya lolos menjadi staff HR. Welcome party di tanggal 21 Januari 2017 membawaku pada lingkungan baru, orang baru, dan teman baru.
Dari sini, aku sangat berharap bisa lebih membaur dengan angkatanku. Karena bisa dibilang, dalam satu semester ini belum banyak yang aku kenal.
Tes STAN
Perang batin sih sebenernya. Karena untuk mengikuti tes ini, aku harus menyembunyikan dari organisasi. Pasti mereka berpikir bahwa aku tega meninggalkan mereka dan aku tidak suka seperti itu, maka dari itu mungkin lebih baik dirahasiakan dulu. "Kalau benar-benar aku pindah, baru pamitan", pikirku saat itu.
Belum puas dari hasil tahun lalu, di tahun ini aku mencoba peruntunganku lagi. Dan kali ini, ada satu kemajuan. Pada tes tahap pertama, aku lolos diantara ribuan peserta di wilayah Surabaya. Lanjut ke tes tahap kedua, Tes Kebugaran dan Jasmani. Untuk persiapannya aku tidak memiliki banyak waktu, kurang dari seminggu. Setiap pagi dan sore latihan lari, makanan juga ikut diatur, dan minum jus setiap hari.
Namun hasil berkata lain. Di tahun 2017, aku gagal lagi. Langkahku terhenti di tes tahap kedua.
Percaya, dibalik kegagalan pasti ada hikmahnya.
Mempersiapkan Osjur
Masuk dalam kepanitiaan dan menjadi bagian dari sub-tim acara. Ku kira ini akan menjadi hal terberat di tahun ini dan ternyata IYA. Liburan rela dipotong, menyisihkan waktu bersantai untuk mondar-mandir ke kampus menyusun konsep. Tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Berangkat pagi dan pulang pagi lagi. Belum kalau harus revisi, bisa tidak tidur sehari.
Namun dari situ aku punya tempat 'berkeluh kesah' yang baru. Teman yang selalu ada untukku.
Feeling Down
Benar apa yang dikata 'hidup itu seperti roda, kadang di atas kadang di bawah'. Di tahun ini aku merasakan keduanya. Herannya, bisa secepat itu, ya?
Pada saat itu, aku merasa hampa. Mendadak jadi pendiam. Mengurung diri di kamar. Tiap minggu harus pulang. Aku sendiri takut kalau ini namanya depresi. Overthinker.
Ini ku rasakan dua minggu sebelum UTS. Saking takutnya, notification line aku non-aktifkan. Berasa sumpek dan sedih gitu aja kalau dengar suaranya.
Inisiatif setelah UTS, aku pergi ke Malang untuk menceritakan keadaanku pada salah satu guru SMK-ku dulu, yang bisa ku percaya. Dan disana aku ceritakan semuanya. Terima kasih, Bu Felly.
Dari situlah, aku mendapat banyak masukan dan aku mencoba untuk merubahnya perlahan.
Ada apresiasi dari temanku berkat usahaku untuk berubah, khususnya dari dalam kepanitiaan (karena pada saat itu aku menjadi Wakil I di proker HMA).
Usia Baru
19 Desember, 20 tahun lalu aku dilahirkan. Aku di rumah, merayakannya bersama keluarga. Maaf yang sebesar-besarnya, aku tidak bisa menghadiri LPJ HMA dikarenakan ada acara. Sangat membingungkan karena aku harus memilih diantara keduanya.
Dibalik itu semua, aku sangat bersyukur. Allah masih memberiku kesempatan untuk bernafas tanpa kurang suatu apapun hingga detik ini.
Akan banyak resolusi untuk usia baruku ini.
Memutuskan Hal Besar
Hidup memang akan selalu tentang pilihan. Tak hanya 2 atau 3 opsi, akan lebih banyak lagi. Di tahun ini aku dilatih dan belajar untuk memilih. Memilih tidak akan pernah mudah. Selalu ada resiko.
Tes STAN, aku harus memilih antara organisasi atau cita-cita keluarga. Aku memutuskan untuk memperjuangkan cita-cita meski hasilnya tidak sesuai harapan. Setelahnya, loyalitas pada organisasi dipertanyakan.
Saat aku merasa di titik paling bawah, aku harus memilih antara organisasi dan akademik. Karena saat itu menjelang waktu ujian. Aku memutuskan untuk memperbaiki akademikku yang sempat keteteran di saat mempersiapkan ospek jurusan, dan hal yang aku korbankan adalah kepanitiaan yang saat itu aku pegang. Setelahnya, aku ketinggalan banyak perkembangan teman-teman. Itu prokerku dan aku tidak maksimal di dalamnya, menyesal dan merasa bersalah. Aku mencoba untuk muncul ke permukaan perlahan. Mungkin agak sedikit terlambat.
Melanjutkan kepengurusan HMA? Terdengar sangat menarik. Dan aku memilih untuk mengistirahatkan diri. Meskipun dalam hati sebenarnya ingin. Ingin berkontribusi lebih dan memperbaiki. Banyak jalan menuju Roma. Kontribusi tidak hanya sebatas ikut kepengurusan saja, ada jalan lain.
Urusan laki-laki? Hehe, mungkin agak aneh kalau dibahas disini. Ada pilihan untuk dilanjutkan atau tinggalkan. Dan aku memilih untuk meninggalkan (tapi masih berteman). Maksud meninggalkan disini adalah aku tidak ingin memberi dia harapan dan aku juga tidak ingin diberi harapan. Aku tidak ingin dia terikat dan aku juga tidak ingin terikat, hanya karena kita dekat. Karena mulai saat ini aku ingin hubungan dengan kejelasan. Tidak mau ada hubungan tanpa status. Mungkin akan terkesan kekanak-kanakan, tapi gimana lagi? Aku butuh kepastian. Kalau tidak bisa memberi kepastian, lebih baik berteman. Selain itu juga ada hal lain yang tak bisa ku ceritakan disini.
Maaf jika ada pihak yang tersinggung, karena ini memang buat kamu. Kurang lebih hal ini yang perlu kamu tahu.
Secara keseluruhan, 2017, mengajarkan untuk memilih. Karena kurang lebih masalah yang ku hadapi adalah tentang pilihan. Memang tidak akan selalu mulus, namun hal itu akan segera berlalu.
Selamat menulis resolusi di tahun yang baru. Happy New Year 2018!
2018's planner,
Dhama Reinandya Hapsari.