“You always say you hate to see me hurt and you
hate to see me cry. So all those times that you hurt me, did you close your
eyes?”
Hanya bisa
ku pendam sendiri. Tanpa ada teman untuk aku berbagi.
Kamu, lagi
lagi kamu. Kamu lagi yang menjadi alasan mengapa aku begini.
Berhentilah
untuk menyiksa perasaanku. Memendam segala kegelisahanku. Sendiri.
Tak bisa
berucap. Tak ada alasan mengapa aku bisa tak suka. Aku hanya tidak berani untuk
mengungkapkannya saja.
Kadang aku
menyimpannya sendiri. Cukup hanya aku yang tahu. Hanya aku yang tahu mengapa
ini ada. Aku tak ingin berlarut-larut dalam keadaan seperti ini. Aku selalu
mencoba untuk melupakan. Namun jika itu tidak berhasil setidaknya aku berusaha
untuk pura-pura lupa. Yah walaupun sebenarnya tidak bisa.
Pura-pura?
Berapa kali aku harus melakukannya? Senyum yang ada di wajah terkadang hanya
lambang ke-pura-pura-an saja. Kamu seolah tidak tahu dan tidak mau tahu tentang
apa yang aku rasakan. Terkecoh lambang sialan itu. Lambang bualan.
Aku hanya
sedang mencoba untuk terlihat kuat. Terlihat biasa saja. Terlihat seperti
‘tidak ada apa-apa’. Terima kasih ‘dukungannya’.