Saya salah berekspektasi.
Saya lupa bahwa yang seharusnya saya kendalikan adalah harapan saya sendiri, bukan sebaliknya. Bukan orang lain yang harus mengikuti apa yang saya harapkan.
Saya salah berekspektasi.
Saya mempercayai bahwa tidak ada seorangpun mampu mengubah seorang yang lain, kecuali dirinya sendiri. Termasuk saya, tidak akan pernah bisa mengubahnya.
Saya salah berekspektasi.
Saya sudah menaruh harapan lebih pada seorang yang mungkin tidak pernah meminta saya untuk berubah.
Tapi...
Selama yang kami jalani, pertanyaan "apakah saya orangnya?" tidak pernah hilang dari kepala. Bisa ditebak, sampai kapanpun tidak akan pernah saya dapati jawabannya. Memang seharusnya pertanyaan itu diajukan kepada tuannya, dia.
Saya salah berekspektasi.
Saya sudah menaruh harapan lebih pada seorang yang menyadarkan bahwa hati saya belum mati.
Saya sudah menaruh harapan lebih pada seorang yang membuat saya jatuh hati.


