Rumah adalah tempat yang paling nyaman. Tempatku untuk singgah. Tempatku kembali lagi setelah aku pergi. Tempatku melakukan hal-hal yang aku sukai. Dan semua itu, aku anggap dirimu.
Jika aku menganggap kamu sebagai rumah, lantas kamu anggap apakah aku? Tamu atau penghunimu?
Jikalau aku adalah tamu, bolehkah aku meminta tinggal di rumahmu selama yang aku mau?
Tetapi yang namanya tamu pasti akan datang dan pergi silih berganti. Tidak ada yang menetap disitu. Pasti akan banyak tamu yang menghampirimu. Setelah itu, bisa saja aku terusir bahkan terlupakan.
Dan jikalau aku adalah penghunimu, apakah iya hanya aku seorang penghuni disitu?
Kalau ada yang meminta alamat rumahku, bolehkah aku menyebut namamu? Alamat rumahku yang baru.
Bolehlah kamu menjawab pertanyaanku, "Jika aku menganggap kamu sebagai rumah, lantas kamu anggap apakah aku? Tamu atau penghunimu?"
Katakan "kamu adalah tamuku". Dengan begitu aku akan segera pergi. Aku merasa asing jika terlalu lama tinggal di tempat yang bukan tempatku. Aku akan datang lagi jika kamu mau membukakan pintu untukku. Waktuku bertamu tak akan lama. Hanya sebentar saja, untuk menjengukmu dan mengetahui kabarmu. Jadi, tenang saja.
Bila tidak,
Katakan "kamu adalah penghuniku". Dengan begitu aku akan tinggal disitu selama yang "kamu" mau, bukan selama yang "aku" mau. Dengan senang hati aku menemanimu kapanpun kamu membutuhkan aku. Kamu masih bisa menerima tamu, asal hanya aku saja yang bisa stay disitu. Bukan hanya itu, tentunya kamu bersedia untuk menjaga dan melindungiku selaku penghunimu. Tujuannya, agar aku tidak pergi dan meninggalkanmu. Apakah kamu mau dan bersedia?
Dan saat aku tak sedang berada dalam rumahmu, aku senang jika kamu bertanya dimana keberadaanku. Itu tandanya kamu rindu. Entah rindu sebagai tamu atau penghunimu.
Jika aku menganggap kamu sebagai rumah, lantas kamu anggap apakah aku? Tamu atau penghunimu?
Jikalau aku adalah tamu, bolehkah aku meminta tinggal di rumahmu selama yang aku mau?
Tetapi yang namanya tamu pasti akan datang dan pergi silih berganti. Tidak ada yang menetap disitu. Pasti akan banyak tamu yang menghampirimu. Setelah itu, bisa saja aku terusir bahkan terlupakan.
Dan jikalau aku adalah penghunimu, apakah iya hanya aku seorang penghuni disitu?
Kalau ada yang meminta alamat rumahku, bolehkah aku menyebut namamu? Alamat rumahku yang baru.
Bolehlah kamu menjawab pertanyaanku, "Jika aku menganggap kamu sebagai rumah, lantas kamu anggap apakah aku? Tamu atau penghunimu?"
Katakan "kamu adalah tamuku". Dengan begitu aku akan segera pergi. Aku merasa asing jika terlalu lama tinggal di tempat yang bukan tempatku. Aku akan datang lagi jika kamu mau membukakan pintu untukku. Waktuku bertamu tak akan lama. Hanya sebentar saja, untuk menjengukmu dan mengetahui kabarmu. Jadi, tenang saja.
Bila tidak,
Katakan "kamu adalah penghuniku". Dengan begitu aku akan tinggal disitu selama yang "kamu" mau, bukan selama yang "aku" mau. Dengan senang hati aku menemanimu kapanpun kamu membutuhkan aku. Kamu masih bisa menerima tamu, asal hanya aku saja yang bisa stay disitu. Bukan hanya itu, tentunya kamu bersedia untuk menjaga dan melindungiku selaku penghunimu. Tujuannya, agar aku tidak pergi dan meninggalkanmu. Apakah kamu mau dan bersedia?
Dan saat aku tak sedang berada dalam rumahmu, aku senang jika kamu bertanya dimana keberadaanku. Itu tandanya kamu rindu. Entah rindu sebagai tamu atau penghunimu.